Ketika Pemuda Lain Pergi, Panji Citra Memilih Bertahan

Pagi di Desa Kemantan, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, selalu dimulai dengan kesunyian yang khas. Jalan desa perlahan ramai oleh warga yang berangkat ke kebun, sementara sebagian rumah masih tertutup rapat, tanda bahwa banyak penghuninya adalah para orang tua.

Anak muda, di banyak desa, kerap menjadi pemandangan yang semakin jarang. Namun di Kemantan, ada satu nama yang justru terus hadir, Panji Citra.

Panji memilih bertahan di desa saat banyak seusianya memutuskan pergi. Kota menawarkan janji penghidupan yang lebih pasti, sementara desa sering dipersepsikan sebagai ruang yang terbatas.

Namun, bagi Panji, desa justru menyimpan peluang yang belum sepenuhnya digarap. Ia melihat Kemantan bukan sebagai tempat yang ditinggalkan, melainkan rumah yang harus diperjuangkan.

Keputusan itu tidak lahir dalam semalam. Panji tumbuh menyaksikan bagaimana desa bergantung pada segelintir orang yang mau bergerak.

Setiap kegiatan gotong royong, acara sosial, atau musyawarah desa, kerap dihadiri wajah-wajah yang sama. Pemuda, ketika ada, sering kali hanya menjadi pelengkap. Dari sanalah kesadaran Panji tumbuh, desa akan sulit maju jika generasi mudanya memilih menjauh.

Ia pun mulai mengambil peran, meski dari langkah kecil. Membersihkan lingkungan bersama warga, membantu kegiatan kepemudaan, hingga menginisiasi kegiatan sosial sederhana.

Panji tidak datang dengan jargon besar. Ia hadir dengan kerja nyata. Sedikit demi sedikit, kehadirannya menjadi penanda bahwa pemuda masih punya tempat dan peran di desa.

Bagi Panji, gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan ruang belajar tentang kebersamaan. Di sanalah ia membangun kepercayaan, memahami kebutuhan warga, dan merasakan langsung denyut kehidupan desa.

Dari interaksi itulah Panji mulai merangkul pemuda lain, mengajak, bukan memaksa untuk ikut terlibat.

“Kalau kita tidak bergerak sekarang, desa akan berjalan di tempat,” menjadi pemikiran yang terus ia ulang.

Ia percaya, perubahan tidak selalu lahir dari program besar, melainkan dari konsistensi orang-orang yang mau peduli. Ketika pemuda mulai hadir kembali dalam kegiatan desa, Panji melihat harapan itu perlahan tumbuh.

Di luar aktivitas sosial, Panji menapaki jalur yang tak kalah penting, kemandirian ekonomi. Ia merintis usaha kuliner dari desa, sebuah langkah yang menantang pandangan umum bahwa usaha hanya bisa berkembang di kota.

Dengan segala keterbatasan, Panji membangun usahanya perlahan, mengandalkan ketekunan dan pemahaman terhadap pasar lokal.

Usaha kuliner itu bukan sekadar sumber penghasilan. Bagi Panji, ia adalah bukti bahwa desa memiliki daya hidup. Keberhasilannya menjadi narasi tandingan atas anggapan bahwa bertahan di desa berarti menutup pintu masa depan.

Panji menunjukkan bahwa pilihan untuk tinggal bisa berjalan seiring dengan kemandirian dan kemajuan.

Yang menarik, keberhasilan tersebut tidak menjauhkan Panji dari lingkungan sosialnya. Ia tetap terlibat, tetap hadir, dan tetap menjadi bagian dari keseharian warga.

Pengalaman berwirausaha ia bagikan kepada pemuda lain sebagai motivasi, bukan pamer keberhasilan. Baginya, desa akan lebih kuat jika pemudanya berdaya secara ekonomi dan sosial.

Tokoh masyarakat Desa Kemantan melihat Panji sebagai figur pemuda dengan integritas dan ketulusan.

Ia dinilai tidak sekadar aktif, tetapi konsisten. Di tengah tantangan regenerasi kepemimpinan desa, sosok seperti Panji dianggap penting untuk menjaga kesinambungan nilai kebersamaan dan semangat gotong royong.

Kisah Panji Citra adalah cermin dari pilihan hidup yang jarang diambil. Di saat banyak orang mencari masa depan jauh dari rumah, ia justru menemukan maknanya dengan tetap tinggal.

Dari Desa Kemantan, Panji membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan atau modal besar. Ia bisa berawal dari satu keputusan sederhana: memilih peduli.

Desa Kemantan mungkin bukan satu-satunya desa dengan tantangan serupa. Namun, selama masih ada anak muda yang berani bertahan dan bergerak, desa akan selalu punya harapan.

Dan Panji Citra, dengan langkahnya yang tenang namun pasti, menjadi pengingat bahwa masa depan desa tidak pernah sepenuhnya hilang selama ada yang mau menjaganya.(BY)